GEOLOGI DAERAH DEPOK DAN SEKITARNYA, KECAMATAN PAKENJENG, KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT


 GEOLOGI DAERAH DEPOK DAN
SEKITARNYA, KECAMATAN PAKENJENG, KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT






Penelitian ini dilakukan
oleh :


1.        
Nama            : D. Bunga Saktiana De Rosari S.T.


2.        
Alumni         :
STTNAS Yogyakarta


3.          
Koordinat   : 107o
39’ 08” – 107o 42’ 25” BT dan 7o 28’ 38” – 7o 23’
44” LS


4.        
Tahun           :
2017








Aspek –aspek yang dikaji dalam
bahasan geomorfologi daerah penelitian terdiri atas pola pengaliran, satuan
geomorfologi, proses geomorfologi (morfogenesis), stadia sungai dan stadia
daerah. Dalam geomorfologi, banyak peneliti mengikuti prinsip – prinsip tentang
“siklus geomorfologi”. Prinsip ini kemudian dijabarkan oleh Lobeck (1939)
dengan suatu klasifikasi bentang alam dan bentuk muka bumi yang dikontrol oleh
tiga parameter utama, yaitu struktur (struktur geologi; proses geologi endogen
yang bersifat konstruksional/membangun), proses (proses – proses eksogen yang
bersifat destruksional / merusak atau denudasional), dan tahapan (yang
kadangkala ditafsirkan sebagai “umur” tetapi sebenarnya adalah respon batuan
terhadap proses eksogen;
semakin tinggi responnya, semakin dewasa tahapannya). Dilain pihak terdapat
paham yang dikembangkan oleh Penck (dalam Thornbury, 1969) yang lebih
menekankan pada proses pembentukan morfologi dan mengenyampingkan adanya tahapan.












2.1.2.1     Geomorfologi Daerah Penelitian



Pembagian geomorfologi pada daerah
penelitian ditentukan melalui
analisis peta topografi dengan melihat pola kontur, analisis pola
pengaliran, analisis citra SRTM (Shuttle
Radar Topographic Mission)
maupun analisis dan pengamatan langsung data di
daerah penelitian. Dari beberapa analisis tersebut selain
menghasilkan geomorfologi juga untuk mengetahui stadia sungai dan
stadia daerah penelitian.


Pembagian geomorfologi daerah penelitian ditentukan melalui analisis
pada peta topografi dengan
melihat pola pola kontur
dan kemudian melakukan
sayatan morfometri pada peta topografi dan pada lokasi tertentu
dilakukan pengukuran sudut kelerengan di lapangan.


Berdasarkan hasil perhitungan beda
tinggi dan kelerengan (morfometri) pada peta topografi
dan data lapangan
serta melihat morfogenesa yang berada pada daerah penelitian, sehingga daerah
penelitian dapat dibagi menjadi : geomorfologi bergelombang sedang – kuat sisa
gunung api ; geomorfologi bergelombang kuat – perbukitan sisa gunung api ;
geomorfologi bergelombang kuat – perbukitan punggungan aliran lava ;
geomorfologi bergelombang sedang – kuat punggungan aliran lava ; dan
geomorfologi bergelombang kuat – perbukitan punggungan aliran piroklastik.


2.1.2.1.1.         
Geomorfologi Bergelombang Lemah
– Kuat Sisa Gunung Api



Geomorfologi ini meliputi ± 20 % dari
seluruh daerah penelitian
yaitu Desa Linggarjati
dan Wangunjaya yang mempunyai pelamparan relatif utara - selatan
dari daerah penelitian.
Morfologi pada daerah
ini berupa morfologi bergelombang lemah kuat yang secara morfogenesa terbentuk dari sisa gunung api yang dicirikan
oleh pola - pola sirkuler pada citra SRTM maupun pola - pola kontur yang membentuk
sebuah pola
kontur gunung api pada daerah penelitian. Secara morfometri satuan ini mempunyai beda tinggi rata rata ± 28,32
meter dari permukaan laut dengan
kelerengan rata rata


± 11,9 % (data tersedia pada halaman 127). Litologi penyusun
satuan geomorfologi
ini yaitu lava
andesit. Pola pengaliran
pada satuan ini adalah pola
pengaliran sub-dendritic dan dendritic.





Berdasarkan
data data pada citra SRTM
dan pola
kontur yang berkembang pada daerah
penelitian, maka
geomorfologi daerah ini
termasuk dalam geomorfologi bergelombang lemah kuat
sisa
gunung api, dengan ditemukannya singkapan berupa lava sebagai produk dari hasil gunung api sehingga dapat di interpretasikan sebagai sisa dari tubuh
gunung api (Gambar 2.2).





Gambar
2.2.Geomorfologi bergelombang lemah-kuat sisa 
gunung api dan geomorfologi bergelombang kuat - perbukitan sisa gunung api. Lensa
menghadap
ke N 278
o E (Foto diambil di daerah Desa Jatiwangi di LP 14).



Berdasarkan
data data di atas,
maka geomorfologi daerah ini termasuk
dalam
geomorfologi bergelombang lemah kuat  sisa gunung
api. Geomorfologi ini
dimanfaatkan
sebagai perkebunan, hutan lindung, tambang andesit, dan kawasan pemukiman.


2.1.2.1.2.                             
Geomorfologi Bergelombang Kuat
– Perbukitan Sisa Gunung Api



Geomorfologi ini meliputi ± 25% dari
seluruh daerah penelitian yaitu daerah Desa Pakenjeng, Depok, Pasirlangu,
Tegalgede, dan Tanjungjaya yang mempunyai pelamparan relatif utara – selatan
dan barat daya – timur laut pada daerah penelitian. Morfologi pada daerah ini
berupa bergelombang kuat – perbukitan yang secara morfogenesa terbentuk akibat
sisa – sisa aktifitas gunung api yang dicirikan oleh pola sirkuler pada citra
SRTM dan pola kontur yang membentuk sebuah pola kontur gunung api pada daerah
penelitian. Secara morfometri satuan ini mempunyai beda tinggi rata rata ± 50,5 meter (data disajikan
pada halaman 128) dari permukaan laut dengan kemiringan lereng
rata
rata ± 20,8 %
(data disajikan pada halaman 128). Litologi penyusun satuan geomorfologi ini yaitu lava andesit dan
breksi andesit. Pola pengaliran
pada satuan ini adalah pola pengaliran sub- denritic
dan dendritic.





Berdasarkan
data pada citra SRTM dan analisa pola - pola kontur,
maka geomorfologi daerah
ini termasuk dalam geomorfologi bergelombang kuat perbukitan sisa gunung api, dengan
ditemukannya singkapan berupa lava sebagai produk dari hasil
gunung
api sehingga dapat
di interpretasikan sebagai sisa dari tubuh
gunung api (Gambar
2.3). Satuan geomorfologi
ini dimanfaatkan sebagai pemukiman, sawah, dan perkebunan.





Gambar 2.3. Geomorfologi bergelombang
kuat-perbukitan
sisa gunung api dan geomorfologi bergelombang
lemah-kuat
sisa gunung api lensa menghadap N 250o E (Foto diambil di daerah
Desa Pakenjeng
di LP 2).



2.1.2.1.3.         
Geomorfologi Bergelombang
Kuat-Perbukitan Punggungan Aliran Lava


Satuan geomorfologi ini meliputi 15 %
dari luasan daerah penelitian yang meliputi Desa Garumukti dan Pamulihan.
Satuan ini memiliki beda tinggi rata-rata 55 m dan kelerengan 20.63 % (data
disajikan pada halaman 130). Satuan ini tersusun oleh litologi lava andesit dan
lava basal yang berumur Kuarter. Morfologi pada satuan ini berupa satuan
geomorfologi bergelombang kuat-perbukitan punggungan aliran lava yang secara
morfogenesa terbentuk akibat proses lelehan
lava dari aktivitas
gunung api dan dilihat dari pola kontur yang melidah. Pola pengaliran yang
berkembang pada satuan ini adalah pola pengaliran dendritic.





Berdasarkan
data analisa pola - pola kontur,
maka geomorfologi daerah ini termasuk
dalam satuan
geomorfologi bergelombang kuat perbukitan punggungan
aliran lava, dengan ditemukannya singkapan berupa
lava sebagai
produk dari hasil gunung
api (Gambar 2.4).
Satuan geomorfologi ini dimanfaatkan sebagai pemukiman, sawah, dan perkebunan.





Gambar 2.4. Satuan geomorfologi bergelombang
kuat perbukitan punggungan aliran lava lensa
menghadap kearah N 150
o E (Foto di ambil
di daerah Desa Garumukti di LP 4).






2.1.2.1.4.         
Geomorfologi
Bergelombang Lemah-Kuat Punggungan Aliran
Lava



Geomorfologi ini meliputi 25 % dari luasan daerah
penelitian yang meliputi Desa Jatiwangi, Talagawangi, dan
Sukamulya yang mempunyai pelamparan relatif
ke arah utara-selatan dan timurlaut-baratdaya pada daerah penelitian. Geomorfologi yang berkembang pada daerah ini adalah geomorfologi
bergelombang lemah-kuat punggungan aliran lava yang secara morfogenesa
terbentuk akibat proses lelehan lava dari sebuah gunung api dan dilihat dari
pola kontur yang melidah. Secara morfometri satuan ini mempunyai beda tinggi
rata - rata 44.37 m dan kelerengan rata - rata 13.23 % (data disajikan pada
halaman 131). Litologi penyusun pada satuan ini berupa lava andesit. Pola
pengaliran yang berkembang pada satuan ini adalah pola pengairan sub-dendritic.





Gambar 2.5. Geomorfologi bergelombang lemah kuat punggungan aliran lava lensa menghadap
kea rah N 150
o E (foto di ambil
di daerah Desa Jatiwangi di LP 23).



Berdasarkan
data analisa pola - pola kontur,
maka satuan geomorfologi ini termasuk
dalam satuan
geomorfologi bergelombang lemah kuat punggungan aliran lava, dengan ditemukannya singkapan berupa lava sebagai produk dari hasil gunung api (Gambar 2.5.). Satuan geomorfologi ini dimanfaatkan sebagai
pemukiman, sawah,
dan perkebunan.


2.1.2.1.5.         
Geomorfologi
Bergelombang
Kuat Perbukitan Punggungan Aliran Piroklastik



Satuan geomorfologi ini meliputi 15 %
dari luasan daerah penelitian yang meliputi Desa Kertamukti dan Neglasari yang
mempunyai pelamparan relatif ke arah barat-timur pada daerah penelitian.
Geomorfologi yang berkembang pada daerah ini adalah
geomorfologi bergelombang kuat - perbukitan punggungan aliran
piroklastik yang secara morfogenesa terbentuk akibat proses vulkanisme dari
sebuah gunung api dan dilihat dari kenampakan singkapan di lapangan. Secara
morfometri satuan ini mempunyai beda tinggi rata - rata 45 m dan kelerengan rata


- rata 18,9 % (data disajikan pada halaman 129).
Litologi penyusun pada satuan ini
berupa breksi andesit dan lava andesit. Pola pengaliran yang berkembang pada
satuan ini adalah pola pengairan sub-dendritic.


Berdasarkan
data analisa pola - pola kontur,
maka satuan geomorfologi ini termasuk
dalam
geomorfologi bergelombang kuat perbukitan punggungan aliran piroklastik, dengan ditemukannya
singkapan berupa breksi andesit dan lava andesit
(Gambar 2.6). Satuan geomorfologi ini dimanfaatkan sebagai pemukiman, sawah, dan perkebunan.


 




Gambar 2.6. Geomorfologi bergelombang kuat perbukitan punggungan aliran piroklastik lensa menghadap kea rah N 210o E (foto
di ambil di daerah
Desa Sukamulya di LP 35).







 2.1.3.     
Pola Pengaliran



Pola pengaliran di daerah penelitian
berdasarkan jenis – jenis pola aliran sungai menurut Howard (1967) dapat dibagi
menjadi 2 jenis pola pengaliran (Gambar 2.7) (tersedia pada halaman 54).
Pembagian jenis pola pengaliran didasarkan pada pengamatan peta topografi dan
analisis pola pengaliran maupun pengamatan lapangan. Dua pola pengaliran yang
berkembang di daerah penelitian terdiri dari pola pengaliran dendritic dan pola pengaliran sub dendritic.


1.               
Pola Pengaliran Sub-dendritic


Pola
pengaliran sub-dendritic adalah pola aliran
ubahan dari pola dendritic, dimana peran dari struktur
geologi sudah mengontrol pola ini meskipun sangat kecil, serta topografi yang
lebih bergelombang dibandingkan pada pola dasar (Howard, 1967, dalam Soeroto, 2012).


Pola pengaliran ini meliputi ± 85%
dari keseluruhan daerah penelitian. Sungai – sungai yang termasuk dalam pola
pengaliran sub-dendritic yang
terdapat pada daerah penelitian adalah Kali Ci Arinem di Desa Sukamulya dan
Kali Ci Kandang di Desa Depok.


Pola pengaliran ini berkembang pada
geomorfologi bergelombang kuat - perbukitan sisa gunung api dan bergelombang
lemah - kuat sisa gunung api.


2.               
Pola Pengaliran Dendritic


Pola pengaliran dendritic berbentuk menyerupai cabang – cabang pohon, mencerminkan
resistensi batuan atau homogenitas tanah yang seragam, lapisan horizontal atau miring landau,
dimana peran dari struktur geologi
sudah mengontrol pola ini
meskipun sangat kecil (Howard, 1967, dalam Soeroto, 2012).


Pola pengaliran ini meliputi ± 15%
dari keseluruhan daerah penelitian. Sungai sungai
yang termasuk dalam pola pengaliran dendritic yang
terdapat pada daerah
penelitian adalah Kali Ci Pandayan di Desa Pamulihan. Pola pengaliran ini
berkembang pada satuan
geomorfologi bergelombang lemah - kuat sisa gunung api.





Gambar 2.7. Peta pola pengaliran daerah
penelitian yang meliputi pola pengaliran Dendritik,
Sub-Dendritic.




2.1.4.     
Stadia Sungai



Thornbury (1969), tingkat
stadia sungai dapat dibagi menjadi
tiga tiga stadia sungai yaitu :






1.              
Stadia Muda


Stadia ini berdasarkan prosesnya
belum banyak di pengaruhi oleh faktor perusak, kenampakannya masih terlihat
asli, struktur dari bentuk lahannya masih terlihat dengan jelas di cirikan
dengan sungai sangat aktif dan erosi berlangsung cepat, erosi vertical lebih
besar daripada erosi lateral, lembah berbentuk V, tidak terdapat dataran
banjir, gradient sungai curam, ditandai dengan adanya jurang dan air terjun,
arus sungai deras, bentuk sungai relatif lurus.





2.              
Stadia Dewasa


Stadia ini dicirikan oleh kecepatan
aliran berkurang, struktur asli bentuk lahan ini mulai tidak nampak lagi,
gradient sungai sedang, dataran banjir mulai terbentuk, mulai terbentuk meander sungai, erosi kesamping lebih
kuat disbanding erosi vertikal pada tingkat ini sungai mencapai kedalaman
paling besar.


Berdasarkan dari penjelasan pembagian
stadia sungai tersebut, sehingga stadia sungai yang terdapat pada daerah
penelitian memperlihatkan kenampakan stadia sungai muda seperti yang terdapat
pada sungai Ci Awitali yang terdapat di Desa Jaya Mekar (Gambar 2.8) (tersedia
pada halaman 56). Stadia sungai dewasa hanya terdapat di sungai pada daerah
penelitian, seperti sungai Ci Kandang yang terdapat pada Desa Tegalgede (Gambar
2.9) (tersedia pada halaman 56).





Gambar 2.8. Kenampakan aliran
Sungai Ci Awitali
dengan sifat erosional vertikal yang membentuk huruf V.
Lensa mengahadap ke N 230
oE (Foto diambil di daerah Desa
Jaya Mekar).






Gambar 2.9. Kenampakan aliran Sungai
Ci Kandang dengan sifat erosional lebih dominan horizontal yang membentuk huruf
U. Lensa menghadap ke arah N 135
0E (Foto diambil di daerah Desa
Tegalgede).




2.1.5.     
Stadia Daerah



Perkembangan stadia daerah pada
dasarnya menggambarkan seberapa jauh morfologi pada suatu daerah telah berubah
dari morfologi aslinya. Tingkat kedewasaan daerah atau stadia daerah dapat
ditentukan dengan melihat keadaan bentang alam dan kondisi sungai yang terdapat
di daerah tersebut. Stadia daerah yang terdapat pada daerah penelitian di kontrol oleh faktor litologi,
struktur geologi, dan
morfologi (proses) baik proses endogenik yang membangun suatu bentang alam
maupun proses eksogenik yang bersifat menghancurkan bentuk morfologi suatu daerah.





Berdasarkan pengamatan di lapangan,
dari segi litologi menunjukkan kenampakkan satuan lava andesit aliran Gunung
Kendeng, satuan lava andesit aliran Gunung Tengah,
satuan aliran lava andesit Gunung
Pasirgaru, dan satuan
lava andesit aliran Gunung Papandayan memperlihatkan kondisi lebih segar
dibandingkan dengan satuan breksi andesit jatuhan Gunung Kendeng.





Berdasarkan keadaan bentuk morfologi
yang terdapat pada daerah penelitian, proses endogenik dan eksogenik yang
berkembang, stadia sungai yang menunjukan stadia sungai muda yang tersebar luas
dibandingkan dengan stadia sungai dewasa yang hanya terdapat pada beberapa
aliran sungai, sehingga hal ini menunjukan bahwa proses erosi yang berlangsung
lebih dominan kearah vertikal dibandingkan dengan proses erosi yang bekerja
secara horizontal dan membandingkan terhadap model tingkat stadia Lobeck
(1939), maka dapat disimpulkan secara umum stadia daerah penelitian termasuk
dalam stadia muda.


Penggolongan stadia daerah penelitian
dapat digunakan untuk membantu peneliti dalam menginterpretasi lebih jauh
terhadap aspek-aspek geologi yang terdapat pada daerah penelitian, hal ini
dikarenakan masing-masing tingkatan dalam stadia daerah dikontrol oleh
proses-proses geologi yang beragam.


2.2.          
Stratigrafi



Stratigrafi dalam artian luas adalah
ilmu yang membahas aturan, hubungan dan kejadian (genesa) macam – macam batuan
di alam dengan ruang dan waktu, sedangkan dalam arti sempit ialah pemerian
batuan (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996)
.









2.2.1.     
Stratigrafi Regional



Beberapa peneliti terdahulu sudah
melakukan beberapa penelitian yang membahas
stratigrafi regional daerah
penelitian. Peneliti tersebut
antara lain adalah Alzwar dkk, (1992) yang telah
melakukan penelitian geologi terkait dengan pemetaan yang menghasilkan peta
geologi regional lembar Garut – Pameungpeuk, dimana daerah penelitian masuk
didalam lembar peta tersebut, sehingga peneliti menjadikan hasil penelitian
tersebut sebagai acuan dalam melakukan penelitian.




Tabel 2.1.
Stratigrafi daerah penelitian (Alzwar dkk., 1992).







Berdasarkan peta geologi Lembar Garut
– Pamengpeuk tersebut daerah penelitian masuk dalam dua Formasi
yaitu Formasi Gunungapi Tua Tak Teruraikan (QTv) yang terdiri dari
litologi tuff, breksi tuff, dan lava, dan Formasi Gunungapi Muda Gunung
Papandayan (Qyp) yang terdiri dari jenis litologi berupa eflata dan lava aliran
bersusunan andesit basalan. Lokasi penelitian termasuk dalam Daerah Depok, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut Selatan, Provinsi
Jawa Barat, yang termasuk dalam Lembar Peta Geologi
Lembar Garut dan Pameungpeuk (Alzwar
, dkk., 1992). Secara
regional tatanan stratigrafi daerah penelitian terbentuk dari Zaman Tersier,
Kala Pliosen Awal hingga Kuarter, Kala Plistosen Awal.


2.2.1.1  
Batuan Gunungapi Tua Tak Teruraikan



Satuan ini terdiri dari produk
gunungapi berumur Kuarter yang terdiri dari beberapa jenis litologi antara lain
yaitu: tuff, beksi tuff dan lava.


2.2.1.2     Batuan Gunungapi Muda



Satuan ini merupakan satuan batuan
gunungapi berumur Kuarter yang bersumber dari gunungapi muda, yaitu: G. Wayang
(Qyw), G. Windu (Qyw), G. Papandayan
(Qyp), G. Cikuray (Qyc), G. Masigit (Qym), G.
Haruman (Qyh), dan


G. Kaledong (Qyk), serta beberapa produk gunungapi tak
teruraikan (Qypu, Qhp, Qhg). Satuan ini terdiri dari produk gunungapi primer
berupa lava andesit, tuf dan piroklastik tak terkonsolidasi berupa abu
gunungapi, lapili dan eflata. Sedangkan produk sekundernya terdiri dari breksi
lahar dengan fragmen andesit.


2.2.2.     
Stratigrafi Daerah Penelitian



Stratigrafi daerah penelitian berdasarkan peta geologi regional
lembar Garut Pameungpeuk (Alzwar,
drr, 1992) termasuk ke dalam 2 Formasi dari tua ke muda yaitu Batuan Gunung Api
Tak Teruraikan (Qtv) yang berumur Pliosen –
Plistosen
n dan Batuan Gunung
Api Muda (Qyp)
yang terbentuk pada Kala Holosen.
Penentuan umur relative satuan khuluk dilakukan berdasarkan hasil
analisis tubuh gunungapi dan disebandingkan dengan satuan batuan pada Peta
Geologi Lembar Garut – Pameungpeuk (Alzwar dkk, 1992).


Proses penamaan satuan batuan mengacu
pada Martodjojo dan Djuhaeni (1996) berdasarkan vulkanostratigrafi yang
tercantum pada Sandi Stratigrafi Indonesia pada Bab III pasal 26 dan pasal 27
(Martodjojo dan Djuhaeni, 1996) dengan menggunakan satuan dasar khuluk dan
gumuk. Khuluk gunung api merupakan satuan dasar pada pembagian
vulkanostratigrafi. Khuluk gunung api merupakan kumpulan batuan/endapan hasil dari satu atau lebih sumber erupsi,
baik berupa sumber erupsi utama maupun erupsi samping (parasite), yang
membentuk suatu tubuh gunung api. Gumuk gunung api merupakan bagian
dari khuluk gunung api yang terdiri dari satu atau
lebih batuan/endapan yang dihasilkan dari satu atau beberapa periode letusan
gunung api. Hal tersebut dimaksudkan untuk menata batuan atau endapan gunung
api berdasarkan urutan kejadian agar evolusi pembentukan gunung api mudah
dipelajari dan dimengerti. Pembagian batuan
atau endapan secara bersistem berdasarkan pada sumber, deskripsi,
genesa, dan fasies. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda dimulai dari
Satuan lava andesit porfiro – afanit aliran Gunung Tengah; Satuan lava basal
porfiritik aliran Gunung Pasirgaru; Satuan lava andesit porfiri aliran Gunung
Kendeng; Satuan breksi andesit jatuhan Gunung Kendeng; Satuan lava basal aliran
Gunung Papandayan; dan Satuan lava andesit aliran Gunung Papandayan.


2.2.2.1.1.
Satuan Lava Andesit Porfiro – Afanit Aliran Gunung Tengah






Satuan lava andesit aliran Gunung
Tengah merupakan satuan tertua yang tersingkap
di daerah penelitian. Satuan ini tersusun
oleh lava andesit
(Gambar 2.10) (disajikan pada
halaman 65). Satuan ini merupakan satuan yang didominasi oleh lava andesit.


2.2.2.1.1.   Penyebaran dan Ketebalan



Satuan lava andesit aliran Gunung
Tengah ini menempati ± 20 % dari luas keseluruhan daerah penelitian dan satuan
lava andesit aliran Gunung Tengah mempunyai penyebaran batuan relatif
utara-baratdaya yang meliputi Desa Panyindangan, dan Desa Wangunjaya. Berdasarkan dari kenampakan bentang alam yang
terdapat pada daerah penelitian satuan ini menempati satuan geomorfologi
bergelombang kuat-perbukitan sisa gunung api yang ada di daerah penelitian.
Berdasarkan pengukuran ketebalan
pada garis penampang
A-A’ yang terdapat
pada peta geologi daerah penelitian, maka satuan ini diperkirakan
mempunyai ketebalan 
± 10-15 meter. Satuan ini termasuk dalam satuan geomorfologi
bergelombang sedang-kuat sisa gunung api.


2.2.2.1.2.    Litologi Penyusun



Pada satuan ini terdiri dari lava
andesit, kehadiran satuan ini di lapangan memperlihatkan warna segar abu abu gelap, warna lapuk coklat,
struktur sheeting
joint dengan tekstur porfiro afanitik. Berdasarkan analisis petrografi
sampel no 8 (data disajikan pada halaman 133), Karakteristik sampel batuan
bertekstur khusus vitrofirik. Fenokris berukuran 0,05 0,5mm terdiri dari alk-felspar 12%, plagioklas
35%, piroksen 5%, hornblende 10% dan massa dasar berupa glass 20% sehingga nama
petrografinya adalah Andesite (Streckeisen, 1976).
Sebaran andesite yang luas dan
bertekstur aliran menunjukkan bahwa andesite
merupakan batuan beku luar yang mengalir, selain itu juga geometrinya tidak
menyerupai bentuk kubah sehingga secara genesis, andesite merupakan aliran lava. (Tabel 2.2.)


 Tabel 2.2. Kolom litologi satuan batuan lava andesit
porfiro - afanit aliran Gunung
Tengah.









2.2.2.1.3.  Umur



Pada satuan batuan lava andesit
porfiro – afanit aliran Gunung Tengah penentuan umur dengan menggunakan
pendekatan terhadap stratigrafi regional. Selain itu belum adanya dating pada lava andesite yang dilakukan oleh peneliti
terdahulu untuk dipakai
sebagai kesebandingan, maka penentuan umur dilakukan dengan kesebandingan pada
stratigrafi regional ataupun mengacu pada peneliti terdahulu yang membahas formasi
yang mencakup daerah
ini. Berdasarkan sumber erupsi, ciri fisik dan genesis dari batuan penyusun
satuan batuan lava andesit porfiro


   
afanit aliran Gunung Tengah, satuan
ini termasuk dalam Khuluk Tengah yang pusatnya berada di sebelah barat laut
lokasi penelitian. Merupakan satuan tertua dari daerah penelitian dan satuan
ini berumur Plistosen.


2.2.2.1.4.    Penentuan Lingkungan Pengendapan



Pada satuan batuan lava andesit
aliran Gunung Tengah, penentuan lingkungan pengendapan didasarkan pada struktur
– struktur primer yang dijumpai
dilapangan. Lava Andesit pada satuan ini memiliki struktur sheeting joint serta tidak dijumpai struktur hyaloklastik maupun
struktur bantal. Berdasarkan data tersebut, lingkungan pembentukan satuan
batuan lava andesit Khuluk Kendeng pada lingkungan darat.


2.2.2.1.5.    Hubungan Stratigrafi



Berdasarkan data yang terdapat pada
daerah penelitian maka, hubungan stratigrafi satuan lava andesit aliran Gunung
Tengah dengan satuan dibawahnya tidak diketahui dikarenakan tidak ditemukan
kontak dengan satuan yang lebih tua yang berada dibawahnya sehingga penulis
berkesimpulan hubungan stratigrafi 
satuan lava andesit aliran Gunung Tengah tidak selaras dengan satuan
batuan dibawahnya.





Gambar 2.10.
Singkapan lava andesit (Lensa menhadap N 170
o E di LP 10).





2.2.2.2.   Satuan Lava Basal Porfiritik Aliran Gunung Pasirgaru



Satuan lava basal aliran Gunung
Pasirgaru ini merupakan satuan yang lebih
muda dari satuan lava andesit
aliran Gunung Tengah.
Satuan ini umumnya
tersusun oleh lava basal (Gambar 2.11) (tersedia pada halaman 68).


2.2.2.2.1.                                
Penyebaran dan Ketebalan



Satuan lava andesit aliran Gunung
Pasirgaru ini menempati ± 25 % dari luas keseluruhan daerah penelitian dan mempunyai penyebaran batuan relatif utara- selatan yang meliputi Desa
Pakenjeng, Pasirlangu, Tanjungjaya, Tegalgede, dan Depok. Pada daerah
penelitian satuan ini menempati geomorfologi bergelombang lemah-kuat sisa
gunung api. Berdasarkan pengukuran ketebalan pada garis penampang A-A’ yang terdapat
pada peta geologi maka satuan ini mempunyai ketebalan ± 10 meter. Satuan ini
menempati pada satuan geomorfologi bergelombang sedang-kuat sisa gunung
api dan bergelombang kuat-perbukitan sisa gunung api.


2.2.2.2.2.                             
Litologi penyusun



Satuan ini tersusun oleh litologi
berupa lava basal dimana kehadiran satuan ini di lapangan memperlihatkan warna
segar abu – abu gelap, warna lapuk kecoklatan, tekstur porfiro – afanit dan
struktur aliran. Berdasarkan analisis petrografi sampel 71 (tersedia pada
halaman 135), karakteristik sampel batuan bertekstur khusus interloking.
Tersusun oleh mineral Alk-feldspar 8%, hornblende 17%, plagioklas 70%, dan
piroksen 5% sehingga nama petrografinya Basalt (Streckeinsen,1976). Sebaran basalt yang luas dan bertekstur aliran
menunjukkan bahwa basalt merupakan
batuan beku luar yang mengalir, selain itu geometrinya
tidak menyerupai bentuk
kubah sehingga secara genesis basalt merupakan
aliran lava.




Tabel 2.3. Kolom litologi satuan batuan lava basal
porfiritik aliran Gunung Pasirgaru.







2.2.2.2.3.                                
Umur



Pada
satuan lava basal porfiritik aliran
Gunung Pasirgaru penentuan umur dilakukan dengan menggunakan pendekatan terhadap stratigrafi regional. Selain itu belum adanya dating pada lava basal yang dilakukan oleh peneliti terdahulu untuk
dipakai sebagai kesebandingan, maka penentuan umur dilakukan dengan
kesebandingan pada stratigrafi regional ataupun mengacu pada peneliti terdahulu
yang membahas formasi yang mencakup daerah ini. Berdasarkan kesebandingan dan
kesamaan ciri fisik yang terdapat pada satuan lava basal aliran Gunung
Pasirgaru terhadap stratigrafi regional (alzwar, dkk, 1992), maka satuan lava
basal aliran Gunung Pasirgaru berumur Plistosen Akhir.


2.2.2.2.4.                                
Penentuan Lingkungan Pengendapan



Pada satuan lava basal porfiritk
aliran Gunung Pasirgaru, penentuan lingkungan pembentukan didasarkan pada
struktur-struktur primer yang dijumpai dilapangan. Lava basal pada satuan ini
memiliki struktur sheeting joint dan masif.
Berdasarkan data tersebut, lingkungan pembentukan satuan ini terbentuk di dekat
permukaan.


2.2.2.2.5.                                
Hubungan Stratigrafi



Berdasarkan hasil pengamatan
lapangan di daerah penelitian, serta pola penyebaran pada peta geologi dan pola
pada citra SRTM, serta mengacu pada stratigrafi regional (Alzwar, dkk, 1992),
maka peneliti berkesimpulan satuan lava basal
aliran Gunung Pasirgaru
dengan satuan di bawahnya yaitu satuan lava andesit
aliran Gunung tengah adalah selaras.





Gambar 2.11. Singkapan lava basal (Lensa menghadap ke arah N 210o E di LP 43).




 


2.2.2.3.   Satuan Lava Andesit Porfiri Aliran Gunung Kendeng



Satuan lava andesit aliran Gunung
Kendeng merupakan satuan lebih muda yang tersingkap di daerah penelitian. Satuan ini tersusun
oleh lava andesit
(Gambar 2.12) (disajikan pada halaman 72). Satuan ini merupakan satuan
yang terdiri oleh lava andesit.


2.2.2.3.1.   Penyebaran dan Ketebalan



Satuan ini menempati ± 25% dari luas
daerah penelitian dan mempunyai penyebaran batuan relatif timurlaut-baratdaya
yang berada di timur pada daerah penelitian dan menempati wilayah meliputi Desa
Jatiwangi, Talagawangi, dan Sukamulya. Berdasarkan pengukuran ketebalan di
penampang geologi A-A’, satuan ini mempunyai ketebalan ± 10-15 meter. Satuan
ini menempati satuan geomorfologi bergelombang lemah-kuat sisa gunung api.


2.2.2.3.2.   Litologi penyusun



Satuan ini tersusun oleh litologi
dominan yang berupa lava andesit dengan kenampakan di lapangan berwarna lapuk
kuning kecoklatan, warna segar abu-abu, tekstur porfiritik, struktur kekar
berlembar, dengan komposisi mineral berupa mineral-mineral intermediet (Tabel
2.4.). Berdasarkan analisis petrografi sampel 29 (tersedia pada halaman 137),
bertekstur pilotasitik, holokristalin, bentuk
kristal
subhedral, dengan mineral penyusun berupa alk-feldspar (12%)
berukuran 0,06-02 mm, hornblend (15%) dengan ukuran butir 0,05-0.5 mm,
plagioklas (31%) berukuran 0,05-0,5 mm, piroksen (4%), glass (13%), dan opaq
(19%). Sehingga nama petrografinya adalah Andesite (Streckeinsen, 1976).




Tabel 2.4. Kolom litologi satuan batuan lava andesit
porfiritik aliran Gunung Kendeng.







2.2.2.3.3.     Umur



Pada satuan lava andesit porfiri
aliran Gunung Kendeng penentuan umur dengan menggunakan pendekatan terhadap
stratigrafi regional. Selain itu belum adanya
dating pada satuan lava andesit yang dilakukan oleh peneliti terdahulu untuk dipakai sebagai kesebandingan, maka penentuan umur
dilakukan dengan kesebandingan pada stratigrafi regional ataupun mengacu pada
peneliti terdahulu yang membahas formasi
yang mencakup daerah penelitian. Berdasarkan ciri fisik
dan genesis
dari batuan penyusun satuan lava andesit porfiri aliran Gunung Kendeng dan
berdasarkan peta geologi regional.


Berdasarkan kesebandingan ciri fisik
batuan di lapangan
yang terdapat pada satuan ini terhadap ciri fisik batuan
pada startigrafi regional
menurut (Alzwar, dkk, 1992), maka satuan lava andesit
aliran Gunung Kendeng ini berumur Holosen.


2.2.2.3.4.   Penentuan Lingkungan Pengendapan



Pada satuan lava andesit porfiri
aliran Gunung Kendeng, penentuan lingkungan pengendapan didasarkan pada
struktur-struktur primer yang dijumpai dilapangan. Lava andesit porfiro aliran
Gunung Kendeng memilik struktur masif . berdasarkan data tersebut, lingkungan
pembentukan satuan lava andesit porfiro aliran Gunung Kendeng terbentuk pada
lingkungan darat.


2.2.2.3.5.   Hubungan stratigrafi



Berdasarkan hasil pengamatan lapangan
di daerah penelitian, serta mengacu pada
stratigrafi regional (Alzwar, dkk, 1992), maka peneliti berkesimpulan bahwa
hubungan stratigrafi satuan lava andesit aliran Gunung Kendeng dengan satuan di
bawahnya yaitu satuan lava basal aliran Gunung Pasirgaru adalah selaras.
Dikarenakan pada satuan
lava andesit Gunung
Kendeng tidak terjadi
/ tidak adanya selang waktu geologi dengan satuan di bawahnya.





Gambar 2.12. Singkapan lava andesit (Lensa menghadap ke arah N 280o E di LP 18 ).




2.2.2.4.  
Satuan Breksi Andesit Jatuhan Gunung Kendeng



Satuan breksi andesit jatuhan Gunung
Kendeng merupakan satuan yang lebih muda dari satuan lava andesit aliran
Gunung Kendeng, satuan
lava basal aliran Gunung Pasirgaru, dan Satuan lava
andesit aliran Gunung Tengah yang terdapat pada daerah penelitian (Gambar 2.13)
(disajikan pada halaman 75 ).


2.2.2.4.1.   Penyebaran dan Ketabalan



Satuan breksi andesit jatuhan
Gunung Kendeng menempati
± 15% dari luas daerah penelitian dan mempunyai penyebaran timur-barat dengan wilayah
meliputi
Desa Kertamukti, dan Neglasari. Di daerah penelitian satuan ini
menempati satuan geomorfologi bergelombang kuat-perbukitan sisa gunung api
(Tabel 2.5). Berdasarkan pengukuran ketebalan dipenampang geologi A-A’, satuan
ini mempunyai ketebalan 10-15 meter.


2.2.2.4.2.   Litologi penyusun



Satuan ini umumnya tersusun oleh
breksi andesit dengan kenampakan di lapangan
warna segar abu-abu
cerah, warna lapuk
coklat kekuningan, fragmen
50% berupa andesit, dan matrik 30% berupa material
gunung api dengan
bentuk fragmen
meruncing-bulat tanggung, sedangkan matrik 20% terdiri dari material klastika
gunung api yang berukuran halus. Berdasarkan analisis petrografi pada sampel 42
(tersedia pada halaman 139) (fragmen) tersusun oleh mineral alk-feldspar (9%)
ukuran butir 0,06-0,2 mm, horblend (12%) berukuran 0,05-0,5 mm, plagioklas
(77%) berukuran 0,05-0,5 mm, piroksen (2%), dan glass (6%), sehingga nama
petrografinya adalah Andesite (Streckeinsen, 1978).
Sedangkan pada sampel 42 (matrik) tersusun oleh quartz (40%) berukuran 0,5-1,5
mm, feldspar (30%) berukuran butir 0,06-0,2 mm, glass (25%) pada pengamatan PPL
dan XPL berwarna gelap dan hadir sebagai masa dasar, dan opaq (5%) berwarna
hitam pada saat pengamatan PPL maupun XPL, relief tinggi, dan berukuran butir
0,1-0,3 mm, sehingga nama petrografinya adalah Crystal tuff (Fisher, 1966).




Tabel 2.5. Kolom
litologi satuan batuan breksi andesit jatuhan Gunung Kendeng.










2.2.2.4.3.   Umur



Pada satuan breksi andesit jatuhan
Gunung Kendeng penentuan umur dengan menggunakan pendekatan terhadap
stratigrafi regional. Selain itu belum adanya dating pada breksi andesit Gunung Kendeng yang dilakukan oleh
peneliti terdahulu untuk dipakai sebagai kesebandingan, maka penentuan umur
dilakukan dengan kesebandinga ciri fisik batuan di lapangan yang terdapat pada
satuan ini terhadap ciri fisik batuan pada stratigrafi regional menurut
(Alzwar, dkk, 1992) maka satuan ini berumur Holosen.


2.2.2.4.4.   Penentuan Lingkungan Pengendapan



Pada satuan breksi andesit Gunung
Kendeng, penentuan lingkungan pengendapan didasarkan pada struktur-struktur
primer yang dijumpai dilapangan. Breksi andesit Gunung Kendeng memiliki
struktur masif. berdasarkan data tersebut, lingkungan pengendapan satuan breksi
andesit jatuhan Gunung Kendeng terbentuk pada lingkungan darat.


2.2.2.4.4.
Hubungan Stratigrafi



Berdasarkan hasil pengamatan lapangan
di daerah penelitian, hasil rekonstruksi penampang geologi A-A’, serta mengacu
pada stratigrafi regional (Alzwar, dkk, 1992) maka peneliti berkesimpulan
hubungan stratigrafi satuan breksi andesit jatuhan Gunung Kendeng dengan di
bawahnya yaitu satuan lava andesit aliran Gunung Kendeng adalah selaras.





Gambar 2.13.Singkapan breksi
andesit jatuhan (Lensa menghadap ke arah
N 300
o E di LP 23).




2.2.2.5.    
Satuan Lava Basal Aliran Gunung Papandayan



Satuan lava basal aliran Gunung
Papandayan merupakan batuan yang lebih muda dari satuan breksi andesit
jatuhan Gunung Kendeng,
satuan lava andesit
aliran Gunung Kendeng, Satuan lava basal aliran Gunung Pasirgaru dan
Satuan lava andesit aliran Gunung Tengah yang terdapat pada daerah penelitian
(Gambar 2.14) (disajikan pada
halaman 80).


2.2.2.5.1
Penyebaran dan Ketebalan



Satuan lava andesit aliran Gunung
Papandayan menempati ± 10 % dari luasan daerah penelitian dan mempunyai penyebaran relatif timur-barat pada daerah
penelitian yang meliputi Desa Pakenjeng, dan Desa Garumukti. Pada daerah
penelitian satuan litologi ini menempati geomorfologi bergelombang lemah-kuat
sisa gunung api dan bergelombang kuat-perbukitan sisa gunung api. Berdasarkan
pengukuran ketebalan pada garis penampang
A-A’ yang terdapat
pada peta geologi maka satuan ini mempunyai ketebalan ± 10-15 meter. Satuan ini menempati satuan geomorfologi bergelombang sedang-kuat sisa gunung api.


2.2.2.5.2.   Litologi Penyusun



Satuan ini umumnya tersusun oleh lava
basal dengan kenampakan di lapangan warna segar abu-abu cerah,
warna lapuk coklat
kekuningan, fragmen 50%
berupa andesit,
dan matrik 30% berupa material
gunung api dengan
bentuk fragmen meruncing-bulat
tanggung, sedangkan matrik 20% terdiri dari material klastika gunung api yang
berukuran halus. Berdasarkan analisis petrografi pada sampel 5 (tersedia pada
halaman 143), pada pengamatan nikol sejajar berwarna abu-abu, sedangkan pada
nikol silang berwarna hitam kebau-abuan dengan tekstur khusus zoning yang
tersususn oleh mineral alk-feldspar (13%) berwarna abu-abu dengan ukuran butir
0,06-0,2 mm, hornblend (16%) berwarna coklat kekuningan dengan ukuran butir 0,05-0,5 mm, plagioklas (54%) berwarna putih
abu-abu dengan ukuran butir 0,05-0,5 mm, sehingga
didapat nama petrografinya adalah Basalt (Streckeinsen, 1978).




Tabel 2.6. Kolom litologi satuan batuan lava basal aliran Gunung
Papandayan.







2.2.2.5.3.   Umur



Pada satuan lava basal aliran Gunung
Papandayan penentuan umur dengan menggunakan pendekatan terhadap stratigrafi
regional. Selain itu belum adanya dating pada
lava basal Papandayan yang dilakukan oleh para peneliti terdahulu untuk dipakai
sebagai kesebandingan, maka penentuan umur dilakukan dengan kesebandingan pada
stratigrafi regional ataupun mengacu pada peneliti terdahulu yang membahas
formasi yang mencakup daerah penelitian. Berdasarkan kesebandingan dan kesamaan
ciri fisik batuan di lapangan yang terdapat pada satuan lava andesit aliran
Gunung Papandayan terhadap ciri fisik batuan pada stratigrafi regional
menurut (Alzwar, dkk, 1992), maka satuan ini berumur Holosen.


2.2.2.5.4.   Penentuan Lingkungan Pengendapan



Pada satuan lava basal aliran Gunung
Papandayan, penentuan lingkungan pengendapan didasarkan pada struktur-struktur
primer yang dijumpai dilapangan. Lava basal pada satuan ini memiliki struktur
masif sehingga berdasarkan data tersebut, lingkungan pengendapan pembentuk
satuan lava basal aliran Gunung Papandayan terbentuk pada daerah permukaan.


2.2.2.5.5.   Hubungan stratigrafi



Berdasarkan hasil pengamatan lapangan
di daerah penelitian, dan pola penyebaran batuan pada peta geologi dan analisa
pada citra SRTM, serta mengacu pada stratigrafi regional (Alzwar, dkk, 1992),
maka peneliti berkesimpulan sementara bahwa hubungan stratigrafi dengan satuan
dibawahnya yaitu satuan breksi andesit jatuhan Gunung Kendeng adalah selaras.





Gambar 2.14.
Singkapan lava basal (Lensa menghadap N 40
o E di LP 2).




2.2.2.6.    
Satuan Lava Andesit Aliran Gunung
Papandayan



Satuan ini merupakan satuan batuan
yang lebih muda dari satuan lava basal
aliran Gunung Papandayan, satuan breksi
andesit jatuhan Gunung
Kendeng, satuan lava andesit
Gunung Kendeng, satuan lava basal aliran Gunung Pasirgaru, dan satuan lava
andesit aliran Gunung Tengah (Gambar 2.15) (disajikan pada halaman 83).


2.2.2.6.1.   Penyebaran dan Ketebalan



Satuan lava andesit aliran
Gunung Papandayan menempati
± 5 % dari luasan daerah penelitian dan mempunyai
penyebaran relatif utara-selatan pada daerah penelitian yang meliputi Desa
Pakenjeng. Pada daerah penelitian satuan litologi ini menempati satuan geomorfologi bergelombang kuat –
perbukitan punggungan aliran lava. Berdasarkan pengukuran ketebalan pada garis
penampang A-A’ yang terdapat pada peta geologi maka satuan ini mempunyai
ketebalan ± 10-15 meter.


2.2.2.6.2.   Litologi Penyusun



Satuan ini tersusun oleh lava andesit
dengan kenampakan dilapangan memiliki warna segar abu-abu, warna lapuk coklat,
tekstur afanitik, struktur aliran,
komposisi mineral berupa mineral intermediet (Tabel 2.7). Berdasarkan analisis
petrografi sampel 1 (tersedia pada halaman 145), dimana pada pengamatan nikol
sejajar berwarna
abu-abu pucat, sedangkan
pada pengamatan nikol silang berwarna hitam keabu-abuan dengan tekstur
khusus trakitik, tersusun oleh mineral feldspar (7%) berwarna abu-abu dengan
ukuran butir 0,06-0,2 mm, hornblend (4%) berwarna kekuningan, ukuran butir
0,05-0,5 mm, plagioklas (71%) berwarna abu- abu, ukuran butir 0,05-0,5 mm
dengan jenis plagioklas andesine, glass (5%) berwarna putih abu-abu hadir
sebagai masa dasar batuan, opaq (13%) berwarna hitam pada saat pengamatan PPL
maupun XPL.




Tabel 2.7.
Kolom litologi satuan batuan lava andesit aliran Gunung Papandayan







2.2.2.6.3.   Umur



Pada satuan lava andesit Gunung
Papandayan penetuan umur dengan menggunakan pendekatan terhadap stratigrafi
regional. Selain itu belum adanya da ting pada satuan
lava basal yang dilakukan oleh para peneliti
terdahulu untuk
dipakai sebagai
kesebandingan, Berdasarkan kesebandingan dan kesamaan ciri fisik
batuan di lapangan yang terdapat pada satuan lava andesit aliran Gunung
Papandayan terhadap ciri fisik batuan pada stratigrafi regional menurut
(Alzwar, dkk, 1992), maka satuan ini berumur
Holosen.


2.2.2.6.4.   Penentuan Lingkungan Pengendapan



Pada satuan lava andesit alirang
Gunung Papandayan, penentuan lingkungan pengendapan didasarkan pada
struktur-struktur primer yang dijumpai dilapangan. Lava basal pada satuan ini
memiliki struktur masif, berdasarkan data tersebut lingkungan pengendapan
satuan lava basal Gunung Papandayan terbentuk pada daerah permukaan.


2.2.2.6.5.   Hubungan stratigrafi



Berdasarkan hasil pengamatan lapangan
di daerah penelitian, dan dilihat dari pola sebaran pada peta geologi serta
analisa dari citra SRTM, serta mengacu pada stratigrafi regional (Alzwar, dkk,
1992), maka peneliti berkesimpulan sementara
bahwa hubungan stratigrafi dengan satuan dibawahnya yaitu satuan lava basal aliran Gunung Papandayan,
satuan breksi andesit jatuhan Gunung Kendeng, satua lava andesit aliran Gunung
Kendeng, satuan lava basal aliran Gunung Pasirgaru, dan satuan lava andesit
aliran Gunung Tengah adalah selaras.





Gambar 2.15. Satuan lava andesit aliran (lensa menghadap
kearah N 230
o E di LP 5).






2.2.3.    Kesebandingan   Stratigrafi   Regional   dengan    Stratigrafi daerah Penelitian



Dari
hasil analisis secara
keseluruhan pada satuan
batuan yang terdapat
pada daerah penelitian, maka dapat disebandingkan antara stratigrafi
daerah penelitian dengan stratigrafi regional, oleh peneliti terdahulu Alzwar,
dkk (1992) yang berlandaskan pada konsep vulkanostratigrafi.




Tabel 2.8. Kesebandingan stratigrafi regional dengan
stratigrafi daerah penelitian (A. stratigrafi daerah penelitian, B. stratigrafi
regional menuryt Alzwar, dkk, (1992).












Silahkan download filenya
dibawah ini sebagai acuan, bahan bacaan dan lainnya







JIKA ANDA BELUM MENGETAHUI CARA DOWNLOAD FILE NYA, SILAHKAN KLIK LING DIBAWAH INI





CARA DOWNLOAD ( LANGSUNG PADA LANGKAH NO.7 )