Materi Tes SKB Kemedikbud

Daftar Isi

Apa Itu Asesmen Nasional ?

Penjelasan Tentang Asesmen Nasional
Asesmen Nasional adalah penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program pada tingkat dasar dan menengah. Mutu pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Penilaian ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang akan meningkatkan hasil belajar murid. Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk menyatukan (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) integrasi antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya, antarkelompok sosial ekonomi dalam satuan pendidikan, lingkungan antara satuan pendidikan negeri dan swasta di suatu wilayah, antardaerah , atau pun kelompok antarkelompok berdasarkan atribut tertentu). Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama satuan pendidikan, yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah satuan pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut. Hal ini diharapkan dapat mendorong satuan pendidikan dan Dinas Pendidikan untuk difokuskan pada sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran.


Profil pelajar Pancasila?

Profil pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama: percaya, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, seperti dikutip dari laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

6 profil pelajar Pancasila yaitu sebagai berikut:
1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia
Pelajar Indonesia yang berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pelajar Pancasila memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Elemen kunci percaya, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia adalah akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.


2. Berkebinekaan global
Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas, dan identitasnya, dan tetap terbuka untuk berinteraksi dengan budaya lain. Perilaku pelajar Pancasila ini menumbuhkan rasa saling menghargai dan mendukung pembentukan budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.

Elemen kunci berkebinekaan global adalah mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi antar budaya dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.


3. gotong royong
Pelajar Indonesia memiliki kemampuan gotong royong, yaitu kemampuan pelajar Pancasila untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan.

Elemen kunci gotong royong adalah kebersamaan, kepedulian, dan berbagi.


4. Mandiri
Pelajar Indonesia adalah pelajar mandiri, yaitu pelajar Pancasila yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya.

Elemen kunci mandiri adalah kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi dan regulasi diri.


5. Bernalar Kritis
Pelajar yang bernalar kritis adalah pelajar Pancasila yang mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, dan menyimpulkannya.

Elemen kunci bernalar kritis adalah memperoleh dan informasi dan gagasan, menganalisis dan menganalisis, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil keputusan.


6. Kreatif
Pelajar yang kreatif adalah pelajar Pancasila yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak.

Elemen kunci kreatif adalah menghasilkan gagasan yang orisinil dan menghasilkan karya serta tindakan yang orisinil.


Merdeka Belajar

Slogan Merdeka Belajar Sekolah Cikal yang dipinjam sebagai program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim.[1]Esensi kemerdekaan berpikir, menurut Nadiem, harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.

Pada tahun mendatang, sistem pengajaran juga akan berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat belajar lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak mengandalkan sistem peringkat (ranking) yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Gebrakan Merdeka Belajar
Konsep Merdeka Belajar Motto yang terkenal :
"Merdeka belajar, Guru Penggerak"

- Pelaksanaan USBN tahun 2020 mendatang akan dikembalikan ke pihak sekolah.
- Pada tahun 2021 mendatang, Nadiem berencana menghapus sistem PBB, dan diganti dengan sistem baru, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
- Membentuk siswa yang kompeten, cerdas untuk SDM bangsa, dan berbudi luhur.
Konsep Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan penilaian atau nilai tertentu.[2]

Kebijakan Pokok-pokok Kemendikbud RI tertuang dalam paparan Mendikbud RI di hadapan para kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, Jakarta, pada 11 Desember 2019.

Ada empat pokok kebijakan baru Kemendikbud RI, yaitu:

Ujian Nasional (UN) akan didukung oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini adalah kemampuan penalaran literasi dan numerik yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA (Programme for International Student Assesment). Berbeda dengan UN yang dilaksanakan di akhir jenjang pendidikan, penilaian ini akan dilaksanakan di kelas 5, 8, dan 11. Hasilnya diharapkan menjadi masukan bagi sekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya sebelum peserta didik menyelesaikan pendidikannya.
Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan diserahkan ke sekolah. Menurut Kemendikbud, sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaian, seperti portofolio, karya tulis, atau bentuk penugasan lainnya.
Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menurut Nadiem Makarim, RPP cukup dibuat untuk satu halaman saja. Melalui penyederhanaan administrasi, diharapkan waktu guru dalam pembuatan administrasi dapat dialihkan untuk kegiatan belajar dan peningkatan kompetensi.
Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), sistem zonasi diperluas (tidak termasuk daerah 3T[3]). Bagi peserta didik yang melalui jalur afirmasi dan prestasi, diberikan kesempatan yang lebih banyak dari sistem PPDB.[4] Pemerintah daerah diberikan hak secara teknis untuk menentukan daerah zonasi ini.[5]
Nadiem membuat kebijakan merdeka belajar bukan tanpa alasan. penelitian PISA tahun 2019 menunjukkan hasil penilaian pada siswa Indonesia hanya menempati posisi dari bawah; untuk bidang matematika dan literasi, Indonesia menduduki posisi ke-74 dari 79 Negara.

Menyikapi hal itu, Nadiem pun membuat gebrakan penilaian dalam kemampuan minimum, meliputi literasi, numerasi, survei karakter dan survei lingkungan belajar. Literasi bukan hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan beserta pemahaman konsep baliknya. Untuk kemampuan berhitung, yang dinilai bukan pelajaran matematika, tetapi penilaian terhadap kemampuan siswa dalam menerapkan konsep numerik dalam kehidupan nyata. Soalnya pun tidak,[6] tetapi membutuhkan penalaran. Satu aspek sisanya, yakni survei karakter, sebuah tes, melainkan sejauh mana penerapan asas-asas Pancasila oleh siswa.


Apa itu Kampus Merdeka


Program persiapan yang komprehensif guna mempersiapkan generasi terbaik Indonesia

Kampus Merdeka merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia yang memberikan kesempaatan bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karir masa depan.

Mengapa kamu harus mengikuti
program-program Kampus Merdeka?

  • Kegiatan praktik di lapangan akan dikonversi menjadi SKS

  • Eksplorasi pengetahuan dan kemampuan di lapangan selama lebih dari satu semester

  • Belajar dan Perluasan jaringan di luar program studi atau kampus asal

  • Menimba ilmu secara langsung dari mitra berkualitas dan terkemuka
A. Landasan Hukum
Merdeka Belajar – Kampus Merdeka merupakan salah satu kebijakan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem. Salah satu program dari kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka adalah hak belajar tiga semester di luar program studi. Program tersebut merupakan amanah dari berbagai regulasi/landasan hukum pendidikan tinggi dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran dan lulusan pendidikan tinggi.

 

B.Latar Belakang
Dalam rangka mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa harus disiapkan untuk lebih gayut dengan kebutuhan zaman. Link and match tidak saja dengan dunia industri dan dunia kerja tetapi juga dengan masa depan yang berubah dengan cepat. Perguruan tinggi untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih pencapaian pembelajaran yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan.

Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka diharapkan dapat menjadi jawaban atas hal tersebut. Kampus Merdeka merupakan wujud pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta budaya belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

 

C. Tujuan
Tujuan kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, program hak belajar tiga semester di luar program studi, adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skill maupun hard skill, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, mempersiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian. Program-program experiential learning dengan jalur yang fleksibel diharapkan akan dapat memfasilitasi mahasiswa mengembangkan potensinya sesuai dengan passion dan bakatnya.

Program yang sedang berjalan

Bangkit oleh Google, Goto, Traveloka

Bangkit adalah program persiapan yang dirancang oleh Google untuk memberikan mahasiswa Indonesia paparan langsung dengan praktisi industri, serta mempersiapkan mahasiswa dengan keterampilan yang relevan untuk karir sukses di perusahaan teknologi terkemuka.

Periode Pendaftaran: 26 November 2021 - 31 Desember 2021

Kampus Mengajar

membantu meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan dasar

Periode Pendaftaran: 25 November 2021 - 10 Desember 2021


Magang

Sambut karir masa depan dengan pengalaman kerja yang berharga

Periode Pendaftaran: 29 November 2021 - 31 Desember 2021


Studi Independen

Kuasai ilmu aplikatif lintas jurusan dari para ahli di bidangnya

Periode Pendaftaran: 29 November 2021 - 31 Desember 2021


Program yang akan dibuka

Penghargaan Mobilitas Pelajar Internasional Indonesia

Mobilitas mahasiswa selama 1 semester di perguruan tinggi terbaik dunia


Kementerian ESDM - GERILYA

Studi Independen GERILYA (Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya) memanggil 50 mahasiswa eksakta dari perguruan tinggi di Indonesia untuk ikut bergabung mengasah keterampilan dan mengembangkan kompetensi secara praktis di bidang energi bersih khususnya Solar Photovoltaic (PV).

Membangun Desa (KKN Tematik)

Menyumbang gagasan solusi untuk isu-isu sosial


Pejuang Muda Kampus Merdeka

Pejuang Muda adalah laboratorium sosial bagi para mahasiswa menerapkan ilmu dan pengetahuannya untuk memberi dampak sosial secara nyata. Melalui Program setara 20 SKS ini, mahasiswa ditantang untuk belajar dari warga sekaligus berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan tokoh daerah setempat.


Pertukaran Mahasiswa Merdeka

Belajar lintas kampus dan lintas budaya


Proyek Kemanusiaan

Menyumbang gagasan solusi untuk isu-isu sosial


Riset atau Penelitian

Proyek penelitian di laboratorium pusat riset


Wirausaha

usaha di bawah bimbingan profesional

Persyaratan bagi Mahasiswa Mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa 

Dalam pelaksanaan kebijakan Merdeka Belajar- Kampus Merdeka, program hak belajar tiga semester di luar program studi, terdapat  beberapa persyaratan umum yang harus  dipenuhi oleh mahasiswa maupun perguruan tinggi, di antaranya sebagai berikut:

  1. Mahasiswa berasal dari program studi yang terakreditasi.
  2. Mahasiswa aktif yang terdaftar pada PDDikti.

Literasi Digital

Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang dapat diakses melalui perangkat.Bawden (2001) menawarkan pemahaman baru mengenai literasi digital yang pada literasi komputer dan literasi informasi. Literasi komputer berkembang pada dekade 1980-an, ketika komputer mikro semakin luas digunakan, tidak saja di lingkungan bisnis, tetapi juga di masyarakat. Namun, literasi informasi baru menyebar luas pada dekade 1990-an manakala informasi semakin mudah disusun, diakses, disebarluaskan melalui teknologi informasi berjejaring. Dengan demikian, mengacu pada pendapat Bawden, literasi digital lebih banyak dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Literasi menjadi salah satu masalah yang diperhatikan secara serius oleh pemerintahan Joko Widodo. Wujudnya dengan dicanangkannya Program atau Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang kemudian diturunkan dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan literasi Keluarga (GlK), dan Gerakan literasi Masyarakat (GlM). ada enam jenis literasi yang menjadi prioritas, yakni literasi bahasa dan sastra, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya, dan literasi kewarganegaraan.

Literasi digital diperlukan dalam penggunaan teknologi. Salah satu komponen dalam lingkungan belajar dan akademis yaitu literasi digital. Penerapan literasi digital dapat membuat masyarakat jauh lebih bijak dalam menggunakan serta mengakses teknologi. Dalam bidang teknologi, khususnya informasi dan komunikasi, literasi digital berkaitan dengan kemampuan penggunanya. Kemampuan untuk menggunakan teknologi sebijak mungkin demi menciptakan interaksi dan komunikasi yang positif.

Pengertian literasi digital
Dikutip dari buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021) Devri Suherdi literasi digital merupakan pengetahuan serta memanfaatkan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya. Kecakapan pengguna dalam literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengembangkan, menggunakan, serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, serta tepat sesuai kegunaannya.

Prinsip dasar literasi digital Menurut Yudha Pradana dalam Atribusi Kewargaan Digital dalam Literasi Digital (2018),

literasi digital memiliki empat prinsip dasar, yaitu:

1. pemahaman
Artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit maupun eksplisit.

2. Saling ketergantungan
Artinya antara media yang satu dengan lainnya saling bergantung dan berhubungan. Media yang ada harus saling melengkapi serta melengkapi antara satu sama lain.

3. Faktor sosial
Artinya media saling berbagi pesan atau informasi kepada masayrakat. Karena keberhasilan jangka panjang media ditentukan oleh pembagi serta penerima informasi.

4. Kurasi
Artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami serta menyimpan informasi untuk dibaca di hari lain. Kurasi juga termasuk kemampuan bekerja sama untuk mencari, mengumpulkan serta mengorganisasi informasi yang dinilai berguna.

Manfaat Literasi Digital
Bagi Masyarakat dan Sektor Pendidikan Pada Saat Pandemi Covid-19 (2020) karya Eti Sumiati dan Wijonarko, literasi digital telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Manfaat tersebut di antaranya:

1. Kegiatan mencari dan memahami informasi dapat menambah wawasan individu.
2. peningkatan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami informasi.
3. Penguasaan ‘kosa kata’ individu, dari berbagai informasi yang dibacakan.
4. peningkatan kemampuan verbal individu.
5. Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus serta konsentrasi individu.
6. Menambah kemampuan individu dalam membaca, merangkai kalimat serta menulis informasi.

Tantangan literasi digital Literasi digital setidaknya memiliki dua tantangan yang harus dihadapi. Tantangan ini dapat diatasi dengan menerapkan literasi digital dalam setiap penggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

Berikut penjelasannya :
1. Arus informasi yang banyak
Tantangan paling kuat dari literasi digital adalah arus informasi yang banyak. Artinya masyarakat terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. Dalam hal inilah literasi digital berperan, yakni untuk menemukan, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat.

2. Konten negatif
Konten negatif juga menjadi salah satu tantangan era literasi digital. Contohnya konten pornografi, isu SARA dan lainnya. Kemampuan individu dalam mengakses internet, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, harus dibarengi dengan literasi digital. Sehingga individu dapat mengetahui, mana konten yang positif dan bermafaat serta mana konten negatif.

Contoh literasi digital
Literasi digital bisa diterapkan di mana saja, yakni di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah atau lingkungan masyarakat. Berikut beberapa contoh penerapan literasi digital:

Literasi digital di sekolah Komunikasi dengan guru atau teman menggunakan media sosial. Pengiriman tugas sekolah lewat email. Pembelajaran dengan cara online, yakni lewat aplikasi ataupun web. Mencari bahan dari sumber tepercaya di internet.

Literasi digital di rumah melakukan penelusuran dengan menggunakan browser. Mendengarkan musik dari layanan streaming resmi. Melihat tutorial memasak dari internet. Menggunakan laptop yang tersambung ke internet untuk mengerjakan atau pekerjaan.

Literasi digital di lingkungan masyarakat Menggunakan media internet untuk menggalang dana atau donasi. Penggunaan media sosial untuk sarana promosi penjualan. Memakai aplikasi meeting untuk rapat RT. Menggunakan grup di media sosial untuk menyebarkan informasi yang tepat dan kredibel.